Saturday, July 05, 2008

Moving Out??

Gw pengen bgt moving out.. keluar dari rumah bonyok dan hidup sendiri, gw fikir itu pasti seru bgt, atleast gw bisa punya "kehidupan baru" ketemu orang2 baru.. well hidup gw seh baik2 aja selama gw tinggal sama bonyok gw, keluarga gw cukup bahagia,, (gw rasa mereka cukup bahagia atau kewalahan punya anak kyk gw) tapi yang gw tau mereka bahagia.. selain gw tau klo harus pulang tepat jam 10 mlm, harus bgn pagi2 buta buat beres2 rmh, dan gw harus jadi panutan buat adek gw yang sangat gw "sayangin" gw rasa gw bahagia..

I mean gw ga terlalu kelihatan desperate kan?? cewe umur 20 tahun, SINGLE, dan masih hidup bareng ortu..

Hhh kayaknya gw perlu sedikit holiday, atau gw butuh untuk moving out???

Kenapa harus putih??

Akhir2 ini sering bgt gw lihat iklan2 produk perawatan kulit yang menawarkan kata “putih” di setiap iklan mereka,,, hamper semua produk perawatan kulit(terutama wajah) untuk pasar Asia, menggunakan kata “putih”

So kenapa harus putih?? Putih kan milik orang bule,, karena setahu gw kulit orang asia itu warnanya kuning, sawo matang sampe hitam. bukan putih.. kenapa kulit putih selalu mempunya nilai yang lebih dibandingkan sawo matang(apalagi hitam) mungkin ini ada penyebabnya dengan sejarah jajah-menjajah kita dulu,, karena setahu gw bangsa Asia banyak dijajah sama orang kulit putih sehingga orang kulit putih dianggap posisinya lebih tinggi, tapi apa iya rule itu berlaku sampe sekarang…

Iklan2 perawatan kulit ini menjual banyak mimpi buat kita (terutama orang asia) karena gw lihat seakan-akan dari kulit putih itu gw bisa dapet cowo cakep, gw bisa lebih cantik bahkan mungkin gw bisa dapet kehidupan yang indah kalau gw punya kulit putih.. atau mungkin gw bisa pindah ras kalo gw punya kulit putih, sampe2 gw ngebayangin klo ada iklan pemutih yang isinya ada anak berkulit hitam yang disuruh mandi sama anak kecil bule dengan sabun pemutih yang dia pake, setelah anak hitam ini mandi, Bumm dia berubah jadi anak kecil yang bule (heheh berlebihan memang)

Tapi apakah putih bisa diartikan dengan cantik juga??? Gw rasa nggak.. karena cantik menurut gw adalah sesuatu yang menyeluruh, termasuk perilaku, pendapat, cara berfikir, kepribadian dan cara membawa diri. Bukan diukur dari putihnya kulit kita apa nggak,,, banyak loh orang Eropa atau orang luar negeri yang penegn punya kulit seperti orang Indonesia. Gw fikir banyak bgt istilah2 yg menurut gw masih gap di Indonesia( selain istilah obat nyamuk(nyamuk kok diobatin?)), kayak kata “whitening” atau pemutih yang dipakai oleh sejumlah perusahaan kosmetik karena pada dasarnya kulit yang coklat nggak bisa diputihin hanya dengan olesan krim atau harus minum pil pemutih. Selain “whitening” ada juga istilah “sunblock” karena nggak mungkin ada krim yang bisa mengeblok sinar matahari..

So masih ada yang pengen punya kulit putih???

mendefinisikan arti kematian

Menurut kamus bahasa Indonesia kematian yang berasal dari kata dasar mati adalah tidak hidup lagi, meninggal dunia, wafat atau tutup usia. Tetapi menurut seorang filsuf dari jerman bernama Kierkegaard “kematian adalah akhir dari segalanya, dan secara manusiawi akan ada harapan, hanya selama kehidupan itu ada” sederhananya kehidupan itu akan berjalan terus menerus selama manusia mampu bertindak untuk merealisasikan apa yang manusia inginkan, terlepas dari latar belakang si manusia itu sendiri. Seorang teman pernah berkata kepada saya ”jadikanlah sebuah angan-angan menjadi keinginan, lalu imajinasikan menjadi sebuah harapan lalu realisasikanlah menjadi kenyataan” saya setuju dengan apa yang teman saya katakan, selama ada harapan atau angan-angan selama itu pula ada harapan untuk merealisasikannya. Lalu kenapa sebagian orang masih menganggap kematian itu adalah akhir dari segalanya??? Secara logika kematian merupakan akhir, tapi bukan akhir dari segalanya. Bagaimana kalau kita mendefinisikan arti kematian itu dengan kematian seorang laki-laki paruh baya yang mempunyai harta tujuh turunan dan siap untuk mati, dengan meninggalkan seorang wanita belia yang haus akan hartanya dan dengan harap-harap cemas menunggu kematian sang suami, hmm saya rasa ini bukan arti bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, justru kematian inilah awal dari segalanya, awal dari si wanita belia ini mulai mencari sebuah arti “kesenangan” dalam hidupnya yang mungkin ia tidak pernah dapat dari sang suami… atau kita bisa lihat dari gugurnya para pahlawan yang membuat satu titik awal kehidupan baru untuk rakyat-rakyatnya. Disini jelas terlihat bahwa kematian sekali lagi bukan akhir dari segalanya, bila dilihat sebenarnya arti dari kematian itu sendiri bisa kita lihat dari sudut pandang yang mana, sehingga kita bisa dengan mudah menginterpretasikan arti dari kematian itu sendiri.

Kematian tetap menjadi sebuah momok yang ditakuti masyarakat, kematian tetap mencemaskan masyarakat, namun tidak satupun orang-orang bisa lari darinya, kultur kematian tetap diselubungi aura pesona yang menyeramkan dan mempunyai makna yang banyak, sederhananya kematian tetap menjadi sebuah symbol atau icon yang menyeramkan tapi di satu sisi kita sebagai masyarakat tidak bisa mengelak dari kematian.

Nilai menurut F. budi hardiman adalah sesuatu yang kita hargai, misalnya nilai dari kecantikan yang secara tidak langsung mendorong individu untuk merawat, menghiasi dan menampilkan tubuhnya, dan lewat pengakuan orang lain ia merasa egonya(atau nafsunya) bisa terpenuhi. Di dalam sebuah pengalaman dari nilai kecantikan yang ekstase kadang-kadang ego merasa seolah-olah mengatasi kematian, ego kadang-kadang memberikan pengaruh besar terhadap manusia untuk menumpulkan perasaan cemas akan kematian bahkan mungkin bisa untuk melupakannya. Lalu apa yang bisa kita ambil dari nilai kematian, selain merasakan akan rasa kehilangan yang amat sangat dari orang yang kita cintai atau mungkin orang yang kita benci. Satu hal yang saya lihat ego tidak terlalu memainkan perannya di sini. Di sini ego hanya bertindak sebagai pelengkap yang tidak mempunyai makna yang terlalu banyak.

F. budi hardiman mengambil 2 contoh bagaimana cara suatu nilai kematian dapat menumpulkan rasa kecemasan pada kematian itu sendiri. contoh yang pertama kita bisa lihat bagaima para fans dari inul daratista yang berdesak-desakan menari dan memujanya bak seorang putri raja dan melupakan kematian, sedangkan contoh yang kedua terdapat pada kaum fundamentalis atau kaum puritan yang bersedia mati demi agama yang ia cintai dan membayangkan bahwa kematian sebagai suatu jalan yang sangat amat bernilai.

Sederhananya entah kita merubah arti dari kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang positif atau berusaha melupakan sejenak tentang kematian, kematian tetap merupakan hal yang mistis dan terkesan absurd. Dan yang paling jelas saya tidak melihat adanya unsur bliss di kematian kecuali kematian seorang laki-laki paruh baya yang sangat amat dinanti oleh seorang wanita belia. JJ

hidup tanpa tapi...

Saya ingin sekali hidup tanpa ada kata tapi. Hidup terus tanpa ada satu beban yang mungkin bisa timbul dari kata ‘tapi’, sederhananya begini saat saya ingin makan mie goreng tapi yang ada di situ hanya mie rebus, yaa konteksnya seh saya tetap makan mie instant tapi hanya beda rasa saja, tapi tetap saja ada kata ‘tapi’ yang selalu ada, bahkan untuk hal-hal yang sepele seperti ingin makan mie. Teman ibu saya pernah mengatakan “ ya… kakaknya tante itu sudah 90 tahun. Masih segar, ingatan masih jelas, masih bisa setir sendiri lho, Cuma budek.” Yaa.. memang bisa setir sendiri tetapi diklakson lima mobil dibelakang. Si budek tetap tenang2 saja, yang lain sudah naik pitam… Nenek saya juga mengalami kondisi budek, kalau tidak bicara setengah berteriak ia tidak akan mendengar. Tetapi kalau setengah berteriak dan kebetulan ia bisa mendengar nenek saya pasti akan tersinggung dan marah, katanya bicaranya kasar sama orang tua… hhh jadi serba salah memang jika berinteraksi dengan orang budek, tapi bukan itu hal yang ingin saya tekankan disini,,, hal yang ingin saya tekankan adalah hidup ini tampaknya tak bebas dari kata tetapi, seperti sebuah iklan provider telepon genggam di billboard jalan yang berbunyi: Murah tanpa tapi; meski ada kalimat dipojok kanan atas yang berbunyi: belum termasuk pajak 10%. Jadi????

Hidup ini tampaknya tak bisa bebas dari kata tetapi. Mungkin akan selamanya demikian. Saya atau mungkin anda2 yang harus siap menerimanya,,, yah mungkin untuk selamanya.