Friday, March 20, 2009

Salah Didik..

Mungkin karena experience gw sebagai guru selama 1 tahun yang kebetulan terfokus sama anak2, gw sering banget denger celotehan2 lucu mereka saat gw ngajar yang kebanyakan sering bikin gw ketawa dan mikir ada apa dengan ibu2 mereka, kok mereka bisa mendidik mereka dengan banyak misconception yang kadang2 ga bisa diterima dengan akal sehat. Contoh 1 case kayak gini, saat anak lo jatuh karena mereka asik berlari-larian bersama teman-temannya pasti anak lo akan nangis sekencang-kencangnya lalu apa yang ibu2 mereka lakukan? Pasti mereka akan berkata seperti ini ”uhhh nakal yah lantainya ayo nak sama2 kita pukul lantainya dengan hitungan satu, dua, tiga” (???) Halllooo yang jatuh itu anak lo bukan lantainya yang jahat, mestinya mereka memberikan nasehat agar anaknya lebih berhati-hati, mungkin ibu2 mereka takut jika anaknya bertanya macam-macam saat kita memberikan wejangan kepada mereka but see from the bright side mungkin anak lo anak yang cerdas sampai mereka harus bertanya hal2 yang kadang2 bikin kepala kita pusing buat jawabnya atau mungkin kita terlalu malas untuk memberikan alasan logis karena mereka pikir anak kecil tau apa sih..

Yah memang itu adalah hal yang wajar. Karena kita merasa jauh lebih tua dan lebih lama hidup dibandingkan anak2. tapi ada beberapa hal yang perlu diberi alasan logis dan ada yang tidak. Yang gw lihat kebanyakan orang tua hanya memberikan komunikasi satu arah kepada anak2 mereka, mereka sudah terbiasa dengan pola otoriter yang semua serba apa bukan kenapa, soalnya anak2 nggak punya clue harus ngapain orang tua kadang hanya asal ngelarang, pokoknya nggak boleh aja, alasannya pun nggak masuk akal, ini nggak boleh, itu nggak boleh. Akibat dari pola komunikasi satu arah ini para orang tua akan terus-terusan melihat anaknya kebawah, tidak sejajar bisa jadi sampai anaknya bangkotan pun masih dianggap anak kecil(contohnya gw heheh sedikit curcol) dan lebih parahnya anak2 terbiasa menerima pendapat orang lain tanpa berani mengemukakan pendapatnya karena takut salah apalagi kalau orangtuanya biasa bentak-bentak. Anak cenderung jadi kurang kreatif atau kurang percaya diri. Akhirnya saat anak2 tersebut menjadi dewasa mereka cenderung menjauhkan dirinya atau tertutup terhadap orang tua karena mereka takut dilarang.

Sebagai orang tua seharusnya mereka bisa berbesar hati buat membuka pikiran, terutama dengan perubahan2 yang ada pada mereka. Perlakukan mereka sebagai orang dewasa bukan lagi menatap ke bawah bagaikan anak kecil. Bertemanlah dengan mereka jangan jadi orang tua mereka terus, karena bersama teman mereka biasanya tidak sungkan untuk bicara apa adanya. Karena komunikasi dua arah itu sangat penting

Monday, March 16, 2009

Quarter Life Crisis

Quarter life crisis, gw dapat istilah itu dari novel yang gw baca judulnya “Being something 20 is hard” gw setuju banget apa yang dibilang novel ini.. being 20 itu susah karena lo bener2 in the middle of being teenager and adult person. Dimana masalah2 baru bakal timbul dan kadang2 kita suka susah buat menyikapinya. Bukan karena masalah2 itu yang bikin kita bingung, tapi cara kita untuk menghadapinya di satu sisi kadang2 kita masih suka di bilang anak kecil tapi disisi lain seharusnya sebagai mahluk hidup berkepala 2 kita udah bisa menyikapi masalah secara bijak dan dewasa. Karena setiap manusia kadang2 punya fase kritis dalam hidupnya yang jika tidak diimbangi dengan akal sehat terkadang bisa menyebabkan depresi berat.

Di umur2 segini biasanya kita akan mempertanyakan achievement apa yang sudah kita dapatkan. Semua orang punya keinginan dan ambisi, tapi saking kebanyakan keinginan kita jadi tidak tahu maunya apa dan bagaimana caranya, yang jelas kita ingin menunjukan kesemua orang klo kita bisa meraih apapun. Achievement bisa berbentuk macam-macam bisa berbentuk keamanan, kenyamanan, kestabilan, uang dan kekuasaan. Dan untuk keum wanita kadang2 semua bentuk achievement yang kita inginkan bisa terbentuk dari satu komitmen yang namanya PERNIKAHAN. Gw ga bilang klo nikah di usia muda itu bencana atau sesuatu yang mustahil banget, tapi kadang2 gw suka ga habis pikir sama orang2 yang dengan mudahnya bisa menikah dalam waktu yang menurut gw mustahil banget(walaupun gw tau ga ada yang mustahil di dunia ini) Tahun kemarin gw menghadiri 3 pernikahan teman gw dalam waktu satu bulan. Kadang gw suka bingung apa alasan kuat mereka untuk nikah di usia 20 tahun, lalu satu persatu temen2 gw bilang “yah abis kita mau ngapain lagi, kita udah pacaran lama, udah sama2 kerja, apa lagi?”
APA LAGI?? Kenapa mereka bisa bilang ‘apa lagi’ untuk seribu hal didunia yang belum pernah mereka lakuin? Lo bisa nyoba bunge jumping, sky diving, ikut kursus masak atau menjahit. Ya ampuuuuuun banyak banget hal yang bisa lo lakuin di dunia ini selain menikah! Ada apa dengan orang2 ini?! Mungkin alasan itu juga bisa dipakai saat nanti mereka berencana untuk bercerai. “kan udah nikah lama, apa lagi?” Pernikahan itu kaya kerja bakti, kayak kita nanam bibit. Rumah tangga itu potnya, bibit itu benih cintanya yang setiap hari harus disiram dan dikasih pupuk sampai akhirnya tanaman itu berbuah.

Gw tau semua orang ingin semuanya perfect dalam hal pekerjaan, financial sampai relationship. Tapi ga semuanya mudah kita jalanin jika kita dihadapkan oleh kenyataan. Well krisis2 tersebut akan terus datang ke kehidupan kita tergantung bagaimana kita menghadapinya. Tapi buat gw, gw cukup senang karena di umur gw yang 20 tahun gw sempat bersama seseorang yang bener2 membantu gw menghadapi krisis2 itu:)

Saturday, March 07, 2009

Welcome to The Real World

Hari kamis kemarin di saat gw berada di tengah-tengah kemacetan lalu-lintas gw melihat keadaan sekitar, gw melihat kalau gw berada ditengah-tengah orang yang berbaju rapih dan siap untuk bekerja, gw melihat beberapa orang sibuk membuka tokonya dan membersihkan toko mereka. Timbul banyak pertanyaan saat gw melihat hal-hal tersebut, apa ini hal-hal yang harus mereka alami setiap hari? Apa ini hal-hal yang seharusnya terjadi setiap hari, gw mungkin belum menjadi seperti mereka, tetapi kemarin gw cukup merasakan apa yang mereka alami dan jujur itu cukup membuat gw menderita. Karena setiap hari gw harus menghirup asap knalpot, gw harus menghadapi kemacetan lalu-lintas, gw harus menghadapi jalan-jalan ibukota yang mungkin akan membunuh gw karena ada beberapa orang yang seenaknya mengendarai kendaraan mereka.. Dan dapat dipastikan 50 % gw akan mati konyol klo gw terlalu lama berada di jalan.
Sungguh hal yang sangat tidak ingin gw alami lagi. But maybe this is the real world, the real world to survive, the real world to hanging on… the real world that has to be change,, dengan cara yang gw ga tahu. But someday there must be someone that has to change all these uncomfortable condition.

Mitos

Kita mungkin sering mendengar kata-kata mitos dalam kehidupan kita, tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan mitos. Mitos merupakan pengetahuan manusia tradisional yang dipakai untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan manusia tentang alam semesta. Yang dihadirkan melalui dewa-dewa Yunani. Dahulu mitos berdetak di setiap jantung peradaban, mitos adalah sebuah jawaban penting bagi semua insan, dan mitos bukanlah sebuah dongeng. Dahulu mitos merupakan rumah pengetahuan. Kini, peradaban telah bergeser dan nalar sebuah mitos pun mulai dipinggirkan.

Mitos berubah menjadi nilai suatu kearifan. Banyak mitos mempengaruhi tindakan manusia dalam membunuh satwa, mengambil air, mengotori pantai dan sebagainya. Sains sekarang mempunyai tempat yang paling tinggi sebagai pengganti pengetahuan mitos. Bagi sains mitos tidak dapat diuji kebenarannya, mitos hanya menjelaskan asal-usul manusia atau alam semesta tanpa didukung oleh sebuah fakta yang jelas seperti dalam cerita Sangkuriang. Dan bagi agama mitos merupakan kisah-kisah rekaan yang dapat membahayakan iman, dan mitos menjadi musuh utama dalam menegakkan iman.

Dapat kita lihat bagaimana nilai sebuah mitos dapat berubah. Tetapi menurut saya mitos adalah perjalanan sejarah manusia. Mitos merupakan suatu gerakan mencapai proses penalaran. Penalaran terhadap apa yang terjadi. Dapat kita ibaratkan seperti evolusi manusia dalam menjalani hidup. Mulai dari kanak-kakana hingga dewasa, begitu juga mitos, pada tahap pertama kita dijelaskan mengenai segala fenomena tentang dewa-dewa dan pada tahap selanjutnya kita berada pada tahap puncak peradaban yang dijelaskan dengan ilmu sains.

Bagaimana cara kita untuk mempertahankan ilmu mitos selain dengan kearifan? Kita bisa melihat mitos sebagai symbol untuk memaknai cerita-cerita mitos yang ada disekitar kita dan berbagai peristiwa misterius yang tidak selamanya dapat dijawab oleh ilmu sains. Jika kita bisa menggabungkan ilmu mitos dengan sains mungkin peradaban kita akan lebih baik, karena nalar dari sebuah mitos mempunyai tempatnya sendiri, yang melampaui ilmu sains. Memang banyak hal yang tidak rasional terdapat di ilmu sains. Tapi alangkah baiknya jika kita melihat dari sisi keraifan sebiah mitos. Kita menjadi tahu bahwa cerita sangkuriang dan cerita mitos lainnya bukanlah sebuah legenda yang mengatasnamakan pariwisata, tetapi banyak makna yang tersembunyi yang dapat kita ambil dari cerita tersebut.